Kota Batu yang berdiri pada tahun 2011 berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 adalah sebuat daerah otonom baru merupakan pemekaran dari Kabupaten Malang.

(foto: tokopedia)
Sebagai Daerah Otonom Baru, Kota Batu memiliki karakteristik yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Sekalipun sesuai dengan Undang-Undang di sebutkan sebagai Kota, namun kondisi masyarakatnya masih sangat dipengaruhi oleh ciri-ciri pedesaan yang masih kental.
Kondisi ini dipengaruhi oleh sistim budaya masyarakat yang masih kuat dengan adat istiadat dan norma norma perilaku masyarat desa. Di samping memang mayoritas penduduk kota Batu masih tinggal di pedesaan.
Sejarah Kuno
Berdasarkan kisah-kisah dari orang tua atau dari dokumen yang ada, wilayah yang terletak di kaki Gunung Panderman. Dengan ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut ini. Belum diketahui secara pasti hingga kini tentang kapan nama ‘Batu’ mulai disebut untuk menamai kawasan tersebut.
Baca juga : Sejarah Alun-Alun Kota Batu
Batu pada abad 8 dan 13 merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan lama, mulai dari Kanjuruhan dan Singhasari yang berpusat di Malang. Ketika Malang Raya lepas dari Karesidenan Pasuruan, Malang terbentuklah kabupaten dan kota Malang yang mandiri.
Dimana Batu menjadi bagian dari Kabupaten Malang.Reformasi bergulir tahun 1998 dimana terjadi banyak perubahan mulai dari mengundurkan dirinya Presiden Suharto dan bergulirnya otonomi daerah.
Dampaknya hingga kemudian Batu memekarkan diri menjadi daerah yang mandiri. Kota yang berdiri sendiri statusnya sama dengan kota Malang dan Kabupaten Malang.
Batu, sama halnya dengan Malang kota ataupun kabupaten telah dihuni oleh manusia sejak jaman pra sejarah. Ini dibuktikan dengan temuan-temuan peninggalan kehidupan jaman lampau era Megalitik, seperti Lumpang Batu (watu lumpang), arfefak kuno berupa Lesung.
Sejarah mencatat dengan baik bagaimana banyaknya temuan – temuan arfefak kuno di Batu seperti arfefak tua yang pernah ditemukan di Desa Dadap Rejo, Pendem, Junrejo, Mojorejo, Beji, Pandanrejo, Lejar, Desa Sisir, dan Desa Pesanggrahan.
Tak kurang dari 18 arfefak kuno jaman Megalitik ditemukan di Batu. Salah satu bentuk temuan tersebut adalah Lumpang Batu atau alat kuno jaman prasejarah. Berupa Pahatan / Lubang bulat di atas batu datar yang digunakan sebagai penumbuk biji-bijian hasil hutan/kebun/tani.
Asal-usul nama BATU
Beberapa tokoh masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan ‘Batu’ berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya oleh masyarakat setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu.
Baca juga : Kota Batu Masih Jadi Destinasi Populer Wisatawan Domestik
Dari kebiasaan kultur Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat sebutan nama seseorang yang dirasa terlalu panjang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu berubah menjadi ‘Mbah Tu’ lalu menjadi ‘Mbatu’ atau ‘Batu’ sebagai sebutan yang digunakan untuk kota berhawa dingin di Jawa Timur ini.
Menurut sejarah, Abu Ghonaim merupakan pengikut Pangeran Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah dan hijrah dikaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan dari serdadu Belanda.
Abu Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama dengan masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro.
Akhirnya banyak penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.
Bermula mereka hidup dalam kelompok di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu masyarakat yang ramai.
Namun, tahukah kalian ternyata keindahan Kota Batu ini dulunya merupakan primadona bagi keluarga kerajaan dan orang-orang Eropa?
Peristirahatan Raja
Menurut catatan sejarah, sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman. Selain itu juga didukung oleh keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.
Pada masa pemerintahan Raja Sindok, seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras, akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai kawasan wisata Songgoriti.
Atas persetujuan Raja, Mpu Supo yang konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangun juga sebuah candi yang diberi nama Candi Supo.
Baca juga : Alasan Lengkap Mengapa Anda Harus Berlibur Ke Kota Batu
Ditempat peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan Sendok.
Karena sering digunakan untuk mencuci benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural yang dahsyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk akhirnya berubah menjadi panas.
Dan sumber air panas itupun sampai saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.
Berdasarkan kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada, wilayah yang terletak di kaki Gunung Panderman dengan ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut ini, sampai saat ini belum diketahui secara pasti tentang kapan nama “Batu” mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut.
Di sisi lain, karena panorama alam yang indah dan berudara sejuk, Kota Batu memang punya magnet tersendiri. Untuk itulah di awal abad 19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang Belanda, sehingga orang-orang Belanda itupun membangun tempat-tempat Peristirahatan berupa villa bahkan bermukim di Batu.
Situs dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia Belanda itupun masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan wisata hingga saat ini.
Saking kagumnya bangsa Belanda atas keindahan dan keelokan Kota Batu, mereka mensejajarkan wilayah Batu dengan Switzerland dan bahkan memberikan predikat sebagai ‘De Klein Switzerland’ atau Swiss kecil di Pulau Jawa.
Peninggalan arsitektur dengan nuansa dan corak Eropa pada penjajahan Belanda dalam bentuk sebuah bangunan yang ada saat ini serta panorama alam yang indah di kawasan Batu sempat membuat Bung Karno dan Bung Hatta mengunjungi dan beristirahat di kawasan Selecta Batu, pasca perang kemerdekaan.
Sekilas Lahirnya Kota Batu.
Otonomi Daerah bergulir maka banyak daerah-daerah di Indonesia mengalami pemekaran termasuk kabupaten Malang. Maka pada tanggal 17 Oktober 2001 kota Batu resmi lepas dari kabupaten Malang dan menyandang status sebagai Kota dengan pemerintahan sendiri.
Walikota Batu yang pertama adalah (alm) Drs.H. Imam Kabul, M.Si. Di Malang Raya, secara administratif Batu merupakan daerah yang paling muda dibanding kabupaten dan kota Malang, namun pada aspek sejarah Batu memiliki rangkaian historis yang panjang dan menjadi bagian penting dari sejarah tanah Malang pada umumnya.
SEJARAH PEMERINTAH KOTA BATU
Setelah Jawa Timur mempunyai Kota Administratif Jember, maka yang kedua kalinya ketambahan Kota Administratif lagi yang sangat diandalkan sebagai sentra wisata Jawa Timur, yaitu dengan lahirnya Kota Administratif Batu.
Kelahiran ini pada tanggal 6 Maret 1993 dengan Walikota pertamanya Drs. Chusnul Arifien Damuri. Pelantikan dan peresmian itu dilakukan di kantor Pembantu Bupati Malang di Batu yang terletak di pusat kota di Jalan Panglima Sudirman No. 98. Pelantikan itu langsung dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Rudini, hadir juga Bupati Malang, Drs. Abdul Hamid Mahmud, para pejabat serta undangan lainnya.
Kelahiran itu berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 12 tahun 1993 tentang Peningkatan Status Kecamatan Batu menjadi Kotatif Batu yang terdiri dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Batu (wilayah pusat), Kecamatan Bumiaji (wilayah utara) dan Kecamatan Junrejo (wilayah selatan).
Perkembangan Kotatif Batu sebagai sentra wisata Jawa Timur terus meningkat hari demi hari, kota yang dulunya tidak selengkap kota lain, sekarang hampir menyamai kota-kota lainnya.
Karena perkembangan Batu cukup maju maka banyak warga dari Kotatif Batu yang ingin status kotanya ditingkatkan, organisasi-organisasi banyak didirikan untuk mendukung peningkatan status Kotatif Batu, misalnya Kelompok Kerja (Pokja) Batu, kelompok kerja ini berusaha bersama masyarakat Batu untuk meningkatkan status kotanya. Dukungan-dukungan lainnya dari Bupati Malang, DPRD II Malang, Gubernur Jawa Timur dan organisasi masyarakat lainnya.
Setelah hampir 8 tahun menjadi Kota Administratif yang diperintah oleh 3 Walikota, yaitu Drs. Chusnul Arifien Damuri, Drs. Gatot Bambang Santoso dan Drs. Imam Kabul, akhirnya Batu ditingkatkan statusnya menjadi Pemerintah Kota Batu. Pemerintah Kota Batu Tanggal 28 Mei 2001 proses peningkatan status Kota Administrattif Batu menjadi Pemerintah Kota mulai dilaksanakan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah.
Tanggal 30 Juni 2001 UU No. 11 tentang Peningkatan Status Kota Administratif Batu disahkan, setelah beberapa bulan kemudian yaitu pada tanggal 17 Oktober 2002 secara resmi Kotatif Batu ditingkatkan statusnya menjadi Pemerintah Kota.
Kemudian pada tanggal 22 Oktober 2002 Gubernur Jawa Timur atas nama Menteri Otonomi Daerah melantik Drs. Imam Kabul sebagai Walikota Batu. Esok harinya masyarakat Kota Batu menyambutnya dengan bersyukur pada Allah SWT, mulai menyambut dengan acara syukuran tumpengan bersama, pemasangan spanduk-spanduk yang membanjiri setiap jalan dan sudut Kota Batu.
Setelah Batu ditingkatkan statusnya dengan pejabat Walikotanya Drs. Imam Kabul, Batu ingin meningkatkan lagi pembangunannya, baik pembangunan fisik maupun non fisik. Sejak statusnya meningkat, Pemerintah Kota Batu bersama masyarakat mulai menyiapkan diri bagaimana agar pamor dan citra kota dingin ini tetap ada dan tetap dikenang banyak orang baik domestik maupun luar negeri.
KRONOLOGIS TERBENTUKNYA PEMERINTAH KOTA BATU
- Pada tahun 1950 berdasarkan Undang – Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur, Batu masih merupakan Kecamatan dalam lingkungan wilayah Pemerintah Kabupaten Malang.
- Pada tahun 1997 Kecamatan Batu sebagai Daerah Kota Administratif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 1997 tentang Pembentukan Kota Administratif Kota Batu, dalam wilayah Kabupaten Malang, yang meliputi wilayah Kecamatan Batu, Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Junrejo.
- Pada tahun 2001 Kota Administratif statusnya kemudian berubah menjadi Kota Batu berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Batu yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 21 Juni 2001, maka tanggal 17 Oktober 2001 telah diresmikan Kota Batu menjadi Daerah Otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang yang meliputi tiga Kecamatan (Kecamatan Batu, Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Junrejo) terdiri dari 19 Desa serta Kelurahan.
- Pada hari Jum’at tanggal 30 Agustus 2002 diadakan pemilihan anggota DPRD Kota Batu. Dan selanjutnya pada hari Senin tanggal 16 September 2002 DPRD Kota Batu dilantik. Setelah DPRD Kota Batu terbentuk, maka secara resmi dan sah Pemerintah Kota Batu telah memiliki Badan Legislatif dan secara sah pula DPRD berhak dan mengadakan Pemilihan Kepala Daerah.
- Pada hari Senin tanggal 4 November 2002 diadakan Pemilihan Kepala Daerah dan terpilih Drs. H. Imam Kabul M.Si yang berpasangan dengan Drs. M. Khudhori sebagai Walikota dan Wakil Walikota Batu yang pertama.
- Pada hari Senin tanggal 25 November 2002 dilaksanakan Pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Batu oleh Gubernur Imam Utomo.
- Pada tanggal 26 Agustus 2007 Walikota Batu Drs. H. Imam Kabul M.Si. meninggal dunia dan tanggal 20 September 2007 Drs. M. Khudhori yang pada waktu itu sebagai Wakil Walikota Batu dilantik menjadi Walikota Batu yang dilantik oleh Gubernur Jawa Timur.
- Tanggal 25 Nopember 2007 masa jabatan Walikota Batu berakhir dan melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri tanggal 20 Nopember 2007 Nomor : 131.35-321 Tahun 2007 diangkat Mayjen TNI (Purn) IMAM UTOMO S sebagai Penjabat Walikota Batu.
- Pada tanggal 26 Nopember 2007 melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor : 131.422/65/011/2007 ditunjuk Sdr. Drs. SOERJANTO SUBANDI, MM Kepala Badan Koordinasi Wilayah III Malang sebagai Pelaksana Tugas Harian Walikota Batu.
- Pada Pemilihan Langsung Kepala Daerah tanggal 5 November 2007 pasangan calon Walikota Batu EDDY RUMPOKO dengan calon Wakil Walikota Batu H.A. BUDIONO memperoleh suara terbanyak.
- Pada Pemilihan Langsung Kepala Daerah tanggal 2 Oktober 2012 Pasangan Walikota Batu EDDY RUMPOKO dengan calon Wakil Walikota Batu PUNJUL SANTOSO memperoleh suara terbanyak
Geografi Kota Batu.
Kota BATU secara resmi berdiri pada tahun 2001, hasil pemekaran dari Kabupaten Malang. Kota Batu terdiri dari 3 Kecamatan yaitu: Kecamatan Kota (Batu), Kecamatan Bumiaji dan Junrejo. Terdapat 19 Desa dan 5 Kelurahan.
LUAS dari kota Batu adalah: 202, 800 KM persegi, daerah yang paling kecil di kawasan Malang Raya.
Kota Batu bersebelahan dengan wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara: Kabupaten Mojokerto dan Kecamatan Prigen
Sebelah Selatan : Kecamatan Dau dan Wagir Malang
Sebelah Barat : Kecamatan Pujon Malang
Sebelah Timur : Kecamatan Karangploso dan Dau Malang
Batu adalah daerah dengan topografi Perbukitan dan pegunungan. Ada 3 gunung yang amat dikenal yaitu: Gunung Panderman (2.010 m), gunung Welirang (3.156 m) dan gunung Arjuno (3.339).
Batu termasuk daerah dataran tinggi dengan ketinggian antara 700 – 1300 m di atas permukaan laut (DPL). Hampir semua wilayah Bumiaji adalah perbukitan. Area pemukiman di Batu hanya sekitar 7, 7 % dari total luas lahan, yang paling luas adalah hutan (32, 92 %), sisanya adalah tegalan (sawah) dan perkebunan (5,08 %). Suhu kota Batu sangat dingin.
Hari ini, Batu telah menjelma menjadi Kota Wisata yang lengkap. Berbagai macam pilihan destinasi wisata tersaji di kota ini. Anda bisa mengunjungi rekomendasi tempat wisata di Batu Malang yang populer seperti wisata sejarah, alam, modern, keluarga, kuliner, dan lainnya.
Nama Batu dan Malang sudah sering didengar sebagai tujuan wisata favorit. Lokasinya dekat dengan gunung membuat daerah tersebut sangat sejuk dan segar. Kota Batu sudah menjadi daerah otonom. Meskipun banyak orang sering menyebut Batu adalah bagian dari Malang, wilayah ini memiliki pemerintahan tersendiri. Hal tersebut berdampak pada pengelolaan wisata yang lebih baik untuk turis dari dalam dan luar negeri.
Dari berbagai sumber
