Luweng Pedes Sejak 1973, Warung Masakan Ndeso Favorit Wisatawan

Warung ini tidak begitu difavoritkan warga lokal. Tapi setiap ada tamu dari luar kota, saya sering diminta untuk mengantar mereka ke tempat ini.
Tidak heran, di saat weekend atau hari libur lainnya sepanjang jam buka tempat ini tidak pernah terlihat sepi.
Warung Luweng Pedes diresmikan di tengah masa pandemi COVID-19 pada tanggal 28 Oktober 2020. Meski di masa pandemi, warung ini selalu ramai didatangi pengunjung hingga kini.

Warung ini milik seorang pengusaha sukses Malang bernama Haji Naim. Beliau adalah seorang putra daerah asal Banyuwangi yang menjadi pengusaha hotel yang sukses di Kota Malang dan Batu.
Nama Luweng dalam bahasa daerah Banyuwangi adalah alat perapian untuk memasak. Sedangkan pedes karena asap yang ditimbulkan dari pembakaran kayu untuk memasak di luweng dapat mengakibatkan mata menjadi pedes. Dan memang menu yang disediakan di tempat ini rata-rata adalah makanan dengan rasa pedas dan sangat pedas.
Warung Luweng Pedes terletak di Jalan Bukit Berbunga No.207, Sidomulyo, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65317. Dari Alun Alun Kota Wisata Batu menuju arah Selecta dapat ditempuh dengan jarak sekitar tiga kilo meter atau dengan waktu sekitar 12 menit. Kuliner pedes ini buka setiap hari mulai dari jam 7 pagi dan tutup jam 8 malam.
Dari luar, warung ini terlihat seperti bangunan warung sederhana meski secara ukuran sangat besar dan luas. Bangunan didominasi oleh bahan kayu dan bambu. Separuh lebih area dipakai untuk parkiran kendaraan pengunjung.

Masuk ke dalam Warung Luweng Pedes, Anda akan menemui suasana warung yang bernuansa ndeso. Dengan bangunan semi permanent dengan setengah dinding bata dan anyaman bambu juga didominasi bambu. Juga meja makan dan kursi dari kayu dengan nuansa alami natural.
Di bagian kiri ada ruang dan meja kasir, di bagian kanan belakang sepanjang area adalah meja-meja berisi masakan-masakan yang pengunjung dapat mengambil sendiri. Pengunjung berbaris antri mulai dari mengambil piring, nasi dan menu lainnya.
Piring yang dipakai pun cukup unik. Yaitu piring seng lurik atau motif bunga-bunga yang biasa dipakai orang desa jaman dahulu.
Pajangan dan wadah makanan prasmanan pun semua bernuansa ndeso, termasuk wadah-wadah masakan seperti wajan dan kuali dengan sendok kayu.
Yang bikin suasana di tempat ini jadi asik adalah pawon atau dapurnya. Diletakkan dibelakang meja display makan tadi secara terbuka. Pengunjung bisa melihat proses memasak cara tradisional pakai tungku dan kayu sambil mengambil makanan.
Di belakang pawon terdapat gazebo-gazebo untuk bersantai menikmati menu masakan Luweng Pedes. Gazebo untuk pengunjung yang terbuat dari bambu sehingga konsep alami dan ndeso menyatu dengan bangunan utama yang semi permanent berdinding anyaman bambu.
Tersedia juga mushala dan sepuluh buah toilet bersih untuk pengunjung. Area parkir sangat luas untuk kendaraan roda empat, roda dua mau pun kendaraan bis wisata.
Ada sekitar 20 lebih menu di Warung Luweng Pedes Batu. Dan mayoritas adalah menu masakan pedas khas Jawa Timuran. Pada hari biasa Warung Luweng Pedes menghabiskan sebanyak enam kilogram cabai. Pada hari libur dan Sabtu Minggu bisa menghabiskan 10 kilogram cabai.



Menu masakan pedas yaitu lauk dengan kuah santan pedas berikut berbagai isian seperti bebek, ayam, mentok, ikan kakap, cumi, ikan pe, ikan tongkol, kepala kakap, ikan laut, udang, kikil dan kerang dengan harga berkisar Rp15,000 sampai dengan Rp25,000.
Menu lainnya seperti aneka pepes, aneka botok, aneka oseng, aneka lauk gorengan, aneka sayur pedas, urapan, lodeh tewel, rempelo ati yang berkisar harganya mulai Rp2,000 sampai Rp10,000. Juga ada krupuk blek dan krupuk ikan.
Yang doyan pedes, Recommended banget untuk mampir dan mencoba makan di sini.
